Saturday, August 13, 2016

Kau Tega Membina Aku

Pas SMP dulu ada kawan, anggap namanya Ricardo ya. Dia punya kebiasaan nyanyi yang liriknya begini, "Di depan orang, kau tega membina aku". Yang dia lantunkan cuma sepotong itu, again and again. Kita gak tau itu lagu apa, macam mana start dan ending-nya.

Tiap dia nyanyi, keningku langsung berkerut. Gak habis pikir, vroh! Gagal paham saiah! I felt like, what the f*ck?! Kenapa membina dianggap sebagai "ketegaan"?

Kala itu, Guns N Roses dan Nirvana merajalela. Berhubung kampung kami memang sering dikunjungi turis bule, dampaknya banyak. Salah satunya, kami gak punya budaya mencicipi lagu-lagu berbahasa Indonesia, kecuali Slank.

Si Ricardo mungkin dapat lagunya dari lokalisasi atau apalah, pokoknya somewhere else.

Ternyata, yang merasa "terganggu" sama nyanyiannya bukan cuma aku. Next days, dia menembang lagi, yang langsung kuperhatikan adalah reaksi kawan-kawan lain. Sama, vroh. Mereka kek trauma gitu mukanya, meski gak diungkapkan. Yang terburuk dari situasi itu adalah, suara si Ricardo jeleknya minta ampun. Jadi kami merasa teraniaya dua kali!

Belasan tahun kemudian, aku terdampar di Jakarta. Larut malam kalo lapar pergi ke warung Indomie. Aslinya menghemat. Sore-malam gak masuk apapun ke perut, cuma siang tadi sekali. Tau kalian, kan? Ada juga bubur, biasanya tersedia roti tawar untuk dicelup-celupin. Pikiranmu gak usah langsung jorok mendengar kata "dicelupin", udah mainstream. LOL

Model gitu setauku lebih banyak di Bandung. Komplit dengan musik dangdut sayup-sayup dari belakang sebagai themesong kehidupan malam ala wong cilik. Yuanita Christiani pastilah gak pernah ngerasain yang begini.

Tiba-tiba kupingku langsung menangkap sesuatu yang familiar. Aku sampe menghentikan makan, berkonsentrasi sama liriknya. Yang pertama udah lewat, curi start dia, aku menunggu bagian itu diulang lagi. That's it! Demi kuburan ompungku, ini yang kudengar, "Di depan orang, kau tega MEMFITNAH aku".

Mau ketawa terbahak-bahak segan pula awak sama customer lain. Ditahan jadi penyakit. Aku akhirnya keluar dari warung, yang kuharapkan ketemu adalah tong berisi penuh air, rasanya mau kubenamkan aja kepalaku kedalam. Atau berendam sekalian. Aku tak tahan lagi dengan penderitaan yang ada.



Ricardo, terimakasih kawan atas lawakanmu yang evergreen. Itu insiden misheard atau kau sengaja ngelawak, only God knows. Aku gak tau kau dimana sekarang, kawan. Tapi semoga udah jadi presiden.

Summary
* Potongan lirik diatas adalah lagu Meggy Z berjudul "Terlanjur Basah"

0 comments:

Post a Comment