Friday, August 26, 2016

Oh Organ Tunggal!

Entah kapan budaya konyol begini dimulai, di kampungku, kalo ada seseorang mati, pada malam-malam sebelum dia dikuburkan akan ada "hiburan" organ tunggal. Para pelayat (terutama dari pihak keluarga) bebas bernyanyi. Gak kenal waktu, bisa sampe jam 4 subuh. Lagu yang dimainkan juga tanpa aturan, dari Maumere sampe Country Road, you name it!

Organ Tunggal - Sanam Ent.

Ini kan jelas-jelas mengganggu tetangga sekitar. Dan di orang Batak, semakin dia tua, semakin lama dimakamkan, penyiksaan model ini akan makin lama terjadi, bisa seminggu penuh. What the f*ck?! OK, selalu ada toleransi buat orang yang meninggal, karena meninggal cuma sekali seumur hidup. Kita maklum.

But, ini esensinya apa ya? Organ tunggal? Sh*t! Volume sound system digeber maksimal, itu belum termasuk kesalahan banyak chords yang dibikin si pemain organ, kuping trauma. Aku membayangkan mainnya tetap di C, tapi memanfaatkan fitur transpose yang udah seperti menu wajib keyboard masa kini.

Mirip dangdutan di Jawa sana, tak kenal waktu, kadang secara arogan menutup akses publik. Bedanya, disana itu temanya having fun, sesuai dengan acara yang dibawakan; sunatan, kawinan, dan hajatan lain yang memang mencirikan senang-senang. Lah ini berduka. Takutnya gini coy, bangkit pula nanti orang matinya, ikut me-request lagu. Kan repot.

Aku menulis jam 3 dinihari gini ya gara-gara itu. Dari jam 7 malam tadi gak berhenti-berhenti musiknya. Padahal nanti aku harus tiba di ladang secepat mungkin, ada agenda penyuluhan pertanian dari organisasi tertentu, lumayan penting.

***
Ompungku yang terakhir meninggal tahun 2002. I said terakhir karena kita biasanya punya 4 kakek/nenek kan. Gak tau lagi kalo kakek nenekmu tukang kawin cerai, bisa banyak. Di tahun itu, organ tunggal udah merajalela, tapi kita gak pake. Ketika malam masih muda (dibawah 12), beberapa kelompok berinisiatif berkolaborasi dalam koor dadakan membawakan tembang-tembang gerejawi. No, aku gak membahas agama. Tapi lirik-lirik yang disajikan sangat kontekstual, teramat pas digunakan dalam kontemplasi terdalam siapapun yang mendengar, merenungkan apa kematian, ke-tidak-abadian hidup, where will you go, what next, siapa kau dan apa fungsimu di dunia.



Lewat tengah malam, sebagian tertidur di sekitar jenazah ompung, sebagian lagi "berjaga-jaga" sambil membentuk kelompok diskusi; politik atau apalah. Mungkin ditemani tuak dalam porsi yang aman. Yang lain main kartu. Pihak keluarga terdekat akan membahas teknis ritual adat selanjutnya. Tradisi itu disebut "melek-melekan", ada di dua kejadian; kematian dan kelahiran. Budaya yang layak dilestarikan, ada banyak pencerahan bisa kau ambil, disamping bisa merekatkan hubungan kekeluargaan, dan bertetangga.

Buang aja organ tunggalmu, vroh! kulon progo, music organ, organ tunggal, organ tunggal dangdut, orgen dangdut, orgen tunggal, orgen tunggal pesona

0 comments:

Post a Comment