Friday, August 19, 2016

Kain Tenun Pelepah Pisang Bali


Pas jam makan siang tadi, kami disamperin laki-laki berusia 40-an. Dari luar warung dia mengambil sikap hormat khas Bali, terus masuk, langsung membongkar isi tas yang lumayan besar.

Kain-kain yang masih terbungkus seperti sarung dikeluarkan satu persatu. Mulailah dia berpromosi dengan aksen Bali yang kental. Aku yang duduk agak jauh mengamati dengan seksama. Kebetulan, makananku belum habis.

Motifnya betul berbau pulau Dewata, aku punya sedikit pengetahuan tentang itu, soalnya 4 atau 5 mantan pacarku dulu berasal dari sana. Aku mendekat, kusentuh kainnya, dingin, vroh! Macam lembab gitu. Menurut dia, salah satu karakteristik kain dari pelepah pisang memang demikian.

Masih dengan aksi meyakinkan, dia menyundutkan rokoknya, nothing happened! Kain itu gak bolong, bahkan cuma setitik ding pun tidak. Seolah masih kurang puas dengan adegan penyiksaan yang ada, dia ambil jarum. Kain ditusuk, digurat-gurat. What the f*ck?! Lagi-lagi, kain itu gak bergeming, coy!

Belum cukup? Dia meremas-remas kain, diperas, dikucek-kucek (kau gak usah langsung membayangkan lagi mengucek-ngucek yang lain), digulung-gulung, kainnya tetap balik ke form sempurna.

Secara sengaja dia juga mengeluarkan semacam flyer made in sendiri (kertas print-an yang dilaminating), tampak orang-orang yang menurut dia adalah selebritis Indonesia. Aku gak kenal satupun, tapi yang pasti Yuanita Christiani gak termasuk diantaranya. Gambarnya buram sih, not so sure mereka mengenakan tenun Pelepah Pisang atau malah gak pake baju.

Awalnya impresif.

Sampai akhirnya dia mengeluarkan beberapa statement yang di kupingku terdeteksi sebagai rangkaian fraud. First, kain-kain itu sisa pameran di Medan kota, harga disana sepotongnya 1,2 juta, untuk kami dia "berbaik hati" menurunkannya jadi 375 ribu aja.

Kedua, dia cuma beberapa jam di kampung kami, jadi kesempatannya cuma hari ini, oleh karena itu some discounts may applied. Khusus hari ini lho! Don't miss it!

Ketiga, dia konon datang langsung dari Bali.

OK, give me a f*cking break!

Kucermati lagi kain yang tadi kena aniaya. Aku santai dan beringsut kebelakang, biar konsentrasinya ada di kumpulan pria-pria lain yang riuh berdecak kagum akan keajaiban itu barang. Aku berkonsentrasi.

Ketimbang dingin, kain tersebut kesannya lebih ke lembab. Manusia waras gak akan mau pake baju lembab, itu gak nyaman, meskipun cuma kesan dan bukan dalam artian sebenarnya.

Uniknya kelembaban ini bukan karena air, treatment tertentu atau zat kimia tertentu pasti sebelumnya udah diaplikasikan.

Guratan jarum nyaris invinsible, ini bikin aku berkesimpulan kain itu pasti dilapisi sesuatu yang sifatnya lilin. Bila diteliti pelan-pelan pasti ada perlukaan, namun samar oleh lilin.

Disundut rokok fine-fine aja. Ya dia menyundutnya cuma beberapa detik, dan dengan kondisi "lembab" pula.

Diremas-remas, balik ke bentuk semula, rapi, licin. Ada banyak jenis kain yang punya kemampuan begini. To name one, sutra! Bedanya, kemampuan sutra natural, yang ini mencurigakan!

Pameran

Harga di pameran agak lebih murah dari pasaran sesungguhnya itu biasa, karena pameran lebih bertujuan memperkenalkan barang/jasa, bukan jualan. Semakin murah, product semakin banyak dibeli dan menyebar kemana-mana. Kami pernah juga pameran kopi Lintong Arabica, tapi, trust me, bikin harga murah gak segampang yang ada dalam pikiranmu. Banyak yang mesti dihitung. Di dunia marketing, "sisa pameran" memang jadi kata kunci yang powerful. Sama kuat seperti garansi uang kembali, hemat, beli sekian gratis sekian, 50% off, etc. Kalo kau pedagang, you know exactly those are all bullsh*t!

Pertanyaannya, apakah karena satu item berasal dari pameran lantas bisa diobral? No f*cking way! Kecuali item-item itu rusak, defected.

Time is Running

Pria tadi cuma beberapa jam di kampung kami, harus segera pulang ke...wait, did he say Bali? OMG! What the f*ck??!! Dengan jarak sejauh itu, masih gentayangan? Bukankah seharusnya periksa tiket, cek baju-baju dan barang lain apa ada yang ketinggalan? Dia juga harus fit, jaga kesehatan. Dugaanku, dia, OK betul original dari Bali (tekstur wajah dan aksen meyakinkan), tapi udah berdomisili di sekitar sini, paling jauh kabupaten sebelah lah.

Dan ini bos, cara dia "mengancam" dengan "waktu yang terbatas", "now or never", itu gak menggambarkan anggota rombongan dari satu pameran yang kerjanya angkat-angkat kabel atau menghias stand, melainkan tukang jualan, itu udah profesi dia.

Datang dari Bali

Datang langsung dari Bali hanya untuk menjajakan kain door to door. Baiklah, anggap aja aku ini laki-laki tua yang gak tau apa-apa.

Begitulah, kawan-kawan lain beli, aku gak. Sejujurnya sih karena gak punya duit. LOL. Tadinya aku mau ingatkan kawan-kawan, tapi gak enak lah.

Sampailah barusan, terjadi kehebohan. Di sela-sela aktifitas merawat kopi, mereka yang tadi beli, beramai-ramai ngumpul di semacam shelter tempat kami biasanya rehat. Mau ajang show off barangkali. Maklumlah, barang seharga ratusan ribu gitu gak setiap saat kami bisa pegang. Tapi yang kemudian terdengar malah umpatan-umpatan paling kasar, makian. Aku yang tadi mau menggiling kopi terkejut, ikut nimbrung.

You know what?

Kain itu udah gak dingin, kering sekering-keringnya, kaku, kasar. F*ck! Padahal baru beberapa jam lho. Semoga si Bali tadi udah bergerak jauh, karena kalo masih terjangkau aku kuatir dia kenapa-kenapa, kemarahan kawan-kawan awak udah sampe level mau makan orang.

0 comments:

Post a Comment