Wednesday, August 24, 2016

Will You Still Love Me For The Rest Of My Life?

Sebelumnya, aku sarankan kalian persiapkan plastik kresek masing-masing, karena postingan ini rawan bikin muntah berulangkali. LOL!

Here we go, dari ratusan mantan-mantan pacarku itu cuma ada seorang yang benar-benar bikin aku jatuh cinta. Namanya Maria. Ini nama depan asli, gak masalah ya karena yang punya nama itu banyak. Dia berwajah oriental. Dulu Maria kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta elite di Jakarta, aku kerja di perusahaan advertising kecil. Jumpa di gereja awalnya. Dari ratusan cewek yang rata-rata rutin beribadah disana, sensorku langsung mendeteksi keberadaan Maria. Mula-mula curi pandang, terus cari-cari cara menarik perhatiannya, lewat musiklah.

Kalian pernah nonton film-film Hongkong 90-an? Tau Rosamund Kwan, gak? Nah, dia mirip gitu. 11-12. Maria cuma lebih short.

Rosamund Kwan - WordPress
Ini pas momen Natal, 2002. Aku jadi pianis untuk koor muda-mudi dimana Maria termasuk di dalamnya. Kesempatan itu awak gak sia-siakan tebar pesona dengan bermain dan mengaransemen musiknya sesempurna mungkin. Singkat cerita kami bisa mulai komunikasi. Asal bisa aja komunikasi, biasanya chance abang tamvan untuk melumpuhkan para betina bisa sampe 95%. Ayo muntah :D

Cari celah komunikasi pertama lumayan susah. Diakui atau gak, gap antara "Chinese" dan "pribumi" itu ada. Sekalipun dalam konteks seiman (dulu kami seiman, entah sekarang). Semua suku di Indonesia ada kecenderungan begitu kok, masing-masing mencari spesies yang sama.

Manakala ada kesempatan, mulailah Don Juan dari Tobasa membombardir Maria dengan jurus-jurus ala si tamvan. Gentlemanisasi every second, every hour, tiap hari. Kalian bisa pelajari tekniknya disini. Singkat cerita, 3 bulan luluhlah si Maria! Gaya berpacaran? Jangan kau pikir kami pacarannya berdoa bareng sambil baca Alkitab tapi pikiran jorok. Aku gak mau sok-sok berkotbah tapi menginginkan selangkangannya. I'm not that kind of sh*t! Pinggang keatas Maria kerap aku bikin babak belur tiap kali nge-date. She loved it. Cupangan di bagian dada wajib hukumnya. Bawahnya gak lah, aman. Paling dipegang dari luar. Bisa sih lebih, tapi jiwa ksatriaku menolak melakukan perbuatan hina itu. Maria yang tadinya lugu, suka mewek kalo lagi berdoa, kini jadi "bengal". Tapi aku punya konsep tertentu tentang itu, coy! Bukan mau membela diri, kuanggap pendidikan seks yang normal, baik buat dia. Bengalnya pun waktu kami berduaan aja di kamar, diluar, dia tetap seperti Maria yang dikenal orang.

Rosamund Kwan - Desk7

Itulah waktu berpacaranku paling lama, dari Maria kuliah di semester 4 sampai lulus. Hitung sendiri biar ada kerjamu! Starting-nya aku biasa aja ke dia, cuma gara-gara dia cantik, aduhai dan keren. Tapi hubungan yang sangat berkualitas selama bertahun-tahun itu akhirnya bikin aku sangat sangat jatuh cinta.

Aku gak ngerti definisi cinta apaan, yang kurasakan; aku gak bisa berpisah dari dia walau cuma sedetik. Ada rasa rindu yang terlalu padahal dia ada di meja yang satu, aku di meja lainnya, cuma terpisah beberapa meja. Hati kami saling memiliki, kalo kami gak bersama, misalnya dia ada di rumah orangtuanya dan aku di kos, aku gak mendamba wajahnya. Di banyak kasus, aku malah bisa lupa wajahnya. Yang bikin kangen itu "roh" dia, bukan fisik. Macam mana aku bilang ya, jadi jiwaku itu bagai merindukan jiwanya (halah!). Mengingat dia aja bisa senyum-senyum sendiri, di jantung ada seperti desiran, getir-getir enak. Padahal ketemu juga hampir tiap hari. Gak bisa bilang "I love you", atau "Aku cinta kamu" cuma sekali, sehari bisa kuucapkan 200 kali, diapun sama. Kalo dulu tiap ciuman, remasan, atau isapan, pasti dibarengi dengan sesuatu yang keras...sekarang...juga masih sih. Hahaha! Tapi bedanya dulu lebih ke lust, while yang ini mungkin ke rasa sayang. Perbedaannya nyata kok, nikmatnya juga beda :)

Yang lebih konyol mungkin pas kami mau pisahan, baru jalan dari mana gitu ya, terus akan menuju tempat masing-masing, rasanya kek gak rela, coy! Dan lain sebagainya, semua symptoms itu aku anggap sebagai apa yang kalian sebut "jatuh cinta". Dan aku gak bisa jelaskan, kenapa bisa begitu. Padahal, as I said, sebelum-sebelumnya aku juga punya pacar, alot of them! Ratusan!

Sampailah di momen dia akan lulus dan menjadi sarjana. Wacana melanjut ke Amerika udah diutarakan ke aku, ada kokonya disana, di San Francisco. Buatku gak masalah, itu bagus, ya meskipun sakit. Aku gak ngaku kalo itu berat buatku, takutnya berpengaruh sama keputusannya. Apapun yang dia rasa baik untuk masa depan dia, aku dukung. Tapi tolong, jangan lupakan aku. Keep in touch. Gitu aja kubilang.

Minggu-minggu berikutnya dia murung. Menurut pengakuan Maria, ke Amerika bukan keinginannya melainkan orangtua. Ada banyak penafsiran yang bisa kuambil. Salah satunya, memisahkan kami. Orangtua Maria, memang gak pernah sreg sama aku. No matter how hard aku udah coba, aku tetap gak diterima di rumah itu.

"Mengikuti permintaan orangtua juga penting, Ci", panggilan sayangku buat dia adalah "Cici", aku dipanggilnya abang. Kami gak pernah menyebut aku atau kamu, di substitusi jadi kata ganti orang pertama. Aku, mau gak mau, saat itu terpaksa harus mengutip ayat Alkitab, titah ke-5, perintah Tuhan untuk menghormati orangtua tanpa syarat. What the f*ck?!! Padahal dalam hati aku berontak lho, dia gak boleh pergi, gak boleh. Tapi entah kenapa mulut gak bisa sinkron. Aku mikirnya panjang, vroh! Aku gak mau kelak jadi kambing hitam, soalnya aku masih suka jadi manusia. Hahaha! Yeah, you know what I f*cking mean!

***

Saat naas itupun tiba.

Sekitar pagi aku udah bikin janji akan ke rumahnya, mau jalan. Maria menyanggupi. Aku ke rumahnya selalu jalan kaki, sekitar setengah jam. Naik angkot dan bis bisa mutar-mutar, sambung menyambung. Kadang kalo ada duit naik taksi, tapi kebiasaan ini pasti direpetin sama Maria.

Hanya beberapa ratus meter lagi menuju kompleks perumahan mereka, aku telepon. Dulu masih musim wartel. She said, OK.

Tibalah aku di depan rumah megah yang udah familiar, tapi gak macam biasanya. Kalo kami udah janjian, Maria akan duduk menunggu di teras depan, ini dia lakukan biar aku gak "didzolimi" keluarganya. Popo (nenek) dia luar biasa cerewet, bahkan angkuh menurutku. Nengok aku itu macam nengok sampah.

Lengang. Tapi aku bisa perhatikan ada yang mengintip-intip dari tirai. Karena udah kecapekan, aku duduk di tembok luar pagar. Gak berapa lama, keluar pembantu.

"Mau cari siapa, bang?"
Agak bingung juga awak sama pertanyaan itu. Tumben.
"Maria. Ada kan?"

Dia gak menjawab, masuk lagi. What the f*ck was going on?, pikirku. Heran.

Gak berapa lama, datang lagi dia.

"Bang, non Maria-nya lagi pergi, tadi saya lupa", ini jelas akting. Kalimatnya gemetaran, bahasa tubuh berantakan.
"Wah, barusan saya telepon lho mbak. Belum 10 menit. Maria yang angkat malah!", aku berusaha tenang, biar dia gak grogi. Apapun itu, ini hanya suruhan. Bukan salah dia.

"Iya bang, tadi barusan pergi sebelum abang datang itu, ada keperluan mendadak". Ada yang gak beres ini. Tapi aku diam aja.

"Oh gitu ya, boleh minta air putih, mbak? Tolong, kalo mbak gak repot", aku memang sangat haus. Pembantu masuk, aku duduk lagi.

F*ck! Lama, coy! Mungkin dia ambil air putih di Zimbabwe. Ada 20-an menit, belum nongol juga.

Sedan BMW berwarna biru berhenti persis di depan pagar. Seorang laki-laki, berwajah oriental, muncul dari dalam. Seumuranku kayaknya. Tiba-tiba, Maria menampakkan diri dan menghambur keluar. Dia seperti kegirangan melihat kedatangan manusia sebiji itu. Berpelukan. What the f*ck?!! Maria samasekali gak memandang ke arahku, tapi anak matanya iya. Wihout saying any single f*cking word!

Hello?????

Yang lebih sadis, pagar langsung ditutup, dan aku gak ada kesempatan minta penjelasan. Si popo udah berdiri di teras, aku agak ngeri sama dia.

Hancur, vroh! Aku benar-benar hancur! Kau tau daun-daun berguguran di trotoar kota? Begitu sampai di aspal, langsung dilindas puluhan ban mobil sampe habis gak bersisa. Macam itulah hatiku! Mau nangis tapi kok weird, Don Juan masa nangis, mau marah ya marah ke siapa? F*ck!

Rosamund Kwan - Kungfun
Aku telepon, ditutup (semua penghuni rumah memang tau suaraku). Ke nomor ponsel Maria, tak lagi aktif. Email, Friendster (dulu adanya ini), Yahoo Messenger, semua offline. Intinya, sejak saat itu kita gak bisa lagi berkomunikasi. Seminggu sejak kejadian horor tersebut dia berangkat ke Amerika. Ini aku tau dari kawan dekatnya.

Dendam. Sakit hati. Itu berkecamuk tiap hari. Pikiran-pikiran tak sportif pun mulai berdatangan, such as; tau gitu dulu kau aku perawanin dan hamili, Maria! Terus kutinggalkan macam sampah! Asli, coy! Benar-benar menyakitkan! Perih! Aku mengurung diri di kamar kos. Kerja kutinggalkan. Aku sensitif. Dengar ribut sikit diluar, kudatangi, kuajak berantam. Ada setahun aku macam orang gila. Di rentang satu tahun itu, aku membiarkan diri dekat-dekat dengan kengawuran. Aku bukan peminum, lalu bergaul dengan para drunken master, itupun minumannya yang murahan, isinya racun semua. Muntah-muntah sampe pingsan sering, vroh! Pernah muntah darah malah. Bergaulnya dengan orang gak jelas lainnya. Komunitas balap liar, kernet-kernet yang hobinya ke lokalisasi, main judi, jadi keranjingan t0gel. Begadang, makan gak pernah teratur, bisa cuma Indomie berminggu-minggu. F*ck! She destroyed me into f*cking pieces of sh*t!

Bagian terbaik di era kegelapan itu cuma satu; disanalah bersua kawan-kawan dari Team 9. Sahabat-sahabat sejatiku kemudian, belasan tahun tetap awet. Bahkan kasih aku banyak ilmu survival. Tim ini juga yang bikin aku gak bisa sertamerta membenci orang Tionghoa, karena sebagian isinya ya mereka juga.

Bertahun-tahun udah. Aku hampir lupa. Sampai di tahun 2008, entah macam mana caranya, si Maria mengirimiku pesan di Facebook. Padahal aku gak bikin nama asli, foto juga gak. Memang ada sahabat-sahabat dari masa lalu berkumpul di-list, beberapa adalah teman kita berdua.

"Bang, bla...bla...bla...dulu sengaja biar Abang benci dan lupa sama Cici...bla...bla...Cici mau pulang Natalan ini, mau ketemu Abang. Cici masih cinta Abang, bla...bla...bla...Kalo kita bersama lagi, will you still love me for the rest of my life? Bla...bla...bla..."

Jujur, coy...aku berkaca-kaca. Tapi gak bisa mengidentifikasi itu sedih, marah, atau apa. Pertamakalinya Don Juan menangis gara-gara perempuan, b*tch, biasanya mereka yang kubikin tersedu-sedu. Hahaha!

Aku gak balas. Akun Facebook kuhapus permanen.

0 comments:

Post a Comment