Saturday, July 22, 2017

To Be Or Not To Be

Hei para pecundang out there, LOL. Jumpa lagi dengan abang tamvan disini. Lama ya bos gak bersuo, sekali bersuo mari kita berkudo-kudo. Kau yang jadi kudanya tapi :D

Beberapa bulan terakhir ini memang saat-saat terburukku vroh, disitu fisik, mental, dan intelijensiku jatuh ke titik terendah. Inipun sebenarnya aku sedang demam plus batuk secukupnya, tapi there's something I want to share with you!

Di beberapa bulan tadi, aku harus bekerja pagi - siang - sore - malam to cover my fu*king *ss, aku memang dilanda kebangkrutan finansial, beberapa harus aku hadapi tanpa boleh beralasan. Di rentang itu juga, aku dihadapkan harus mengerjakan proyek melelahkan, meskipun di bidang yang paling kusuka, tapi situasi dan kondisi menyulapnya seolah kerja paksa, penuh tekanan, aku depresi. Disaat bersamaan, aku juga ada kendala kesehatan. Fu*k! Seolah belum cukup, aku juga mesti me-manage perasaan dan pernak-pernik sentimental terhadap seorang betina yang sukses bikin aku dilema. Dilema yang kelasnya paling tinggi. Dan bagian terburuk dari semuanya adalah, aku harus menghadapinya sendirian. All alone!

Ada satu hari, aku duduk lama di tepi danau memikirkan semua. The question is why? Aku mencari-cari jawaban. Tiap manusia memang punya masalah. Aku belum bisa merinci satu persatu, mungkin bagi kalian terdengar standar, bagiku menjadi berat karena ada bumbu-bumbu kegelapan yang aku tak bisa cerna. Tapi, hal-hal diatas yang kusebut, sebenarnya, ini sebenarnya, dan seharusnya, bukan masalah buatku. Kenapa aku babak belur? Aku menelusurinya, dan berakhir pada hal konyol yang lebih dari 20 tahun aku gak pernah lakuin, membaca Alkitab! Can you fu*king believe that? Karena tak ada lagi sumber pertolongan, aku dengan lugunya mencoba berharap pada buku yang halamannya super tipis-tipis itu. Kubaca, dan kubaca. Sejauh ini aku sudah mengulang, dari kitab Kejadian ke Wahyu, started back to Kejadian, and so on.

What did I get?

Sebelumnya, aku harus katakan ini, bukan pamer, I just wanna say sehebat apapun manusia tak akan bisa melawan hukum-hukum tak terlihat, mau muntah boleh tapi maaf ini fakta vroh, aku capable di banyak bidang, dari music, art, technology, IT, politics, math, economics, filsafat, sastra, science, sports, you name it! I can always do them better than any average Joe out there. Capable dalam artian karena aku memang menggeluti dan mempelajari tiap-tiap itu selama belasan dan puluhan tahun. Beberapa aku punya sertifikat kelayakan. Tapi apakah ada jaminan kau bisa survive dalam hidup? Big NO!

Lalu...

Awalnya aku membaca kisah tokoh-tokoh "hero" di Alkitab. Semakin kubaca semakin kutemukan benang merah diantara mereka, sebuah persamaan yang membawa orang-orang itu pada kehidupan yang nyaris sempurna. Apa itu? Mereka menyerahkan diri bulat-bulat ke Tuhan yang mereka percaya dan sembah. Penyerahan diri tanpa syarat, submissive! Penyerahan yang membentuk pemikiran "apapun yang terjadi dalam hidupku, terjadilah, itu kehendak Tuhan". Penyerahan yang membangun keberanian, karena berasumsi jika Tuhan bersamamu, apalagi yang ditakutkan?

That's it! Itulah yang aku gak punya, berserah dan keberanian. Dan apakah kau harus menjadi seorang Kristen untuk bisa memahami ini? Gak harus. Apapun agamamu, bahkan tanpa agama pun, kau bisa memeluk konsepnya, meskipun dari detik-detik ini aku memutuskan untuk menjadi seorang Kristen yang baru, semakin aku menggalinya, semakin aku bergairah.

Kenapa aku gak berserah dan gak gak punya keberanian?

Aku mulai merunut kisah-kisah hidup, jauh ke belakang. I found out that, ternyata aku ini orang yang tidak bahagia. You know what, bahagia tidak bahagia sebenarnya pilihan. Yah, aku memelihara dendam, pikiran negatif, aku gak nyaman dengan diri sendiri, tidak yakin dengan keputusan-keputusanku. I want to fix them all.

Aku mau berserah, ikhlas, atau apapun istilahmu. Berserah dengan cara mulai mensyukuri apapun yang kau punya hari ini, apapun itu, dari hal yang kau suka sampai benci, dari perasaan menyenangkan hingga sakit. Dari gembira sampai ketidakrelaan.

Aku mau mengarungi hidup dengan berani, memulai berani dengan cara sederhana, hanya berpikir yang baik-baik saja, buang pikiran-pikiran buruk dan tidak perlu. Aku butuh keberanian, untuk lepas dari rasa takut terhadap apapun. Bahkan jika itu kematian.

Disitu masalahnya bermula, aku mengerjakan segala sesuatu dengan tidak bahagia. Aku mencari alasan, mencari pelampiasan, mencari pembenaran, hancurlah awak.

I just want to be happy!

0 comments:

Post a Comment